Sabtu, 31 Oktober 2015

Teladani semangat sumpah pemuda, dengan berpikir bijak, berucap santun dan bertindak positif

Tahukah kita kapan hari sumpah pemuda? Ya, semoga kita masih selalu ingat kapan hari sumpah pemuda. Kita selalu merayakan hari sumpah pemuda setiap tanggal 28 Oktober. Di sekolah kita semua belajar tentang sejarah, karena seperti pepatah, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarah.
Apakah kita sudah mampu menjadi bangsa yang besar? bangsa yang selalu mengenang jasa para pahlawannya? Apa yang kita sudah lakukan untuk mengenang jasa para pahlawan kita? Mungkin kita masih ingat pelajaran sejarah yang didapat dari sekolah. Tapi apakah sudah cukup dengan hanya mengenang? Tanpa sebuah tindakan nyata. 

Sumber : Google.com

Kita adalah generasi yang beruntung, generasi yang ada setelah negara kita merdeka, kita tidak perlu memanggul senjata, kekurangan pangan, sandang, bahkan pendidikan seperti yang dialami oleh generasi sebelum kita. Kita bisa bebas memilih apa saja yang menjadi keinginan kita, bahkan kita sering menuntut sesuatu yang kita anggap adalah milik kita, kita pastinya akan memperjuangkannya. Nah, itulah yang dinamakan perjuangan. Apakah pernah kita merenung, apa yang diharapkan oleh para pejuang kita setelah NKRI ini merdeka? Apakah mereka meminta balas jasa atau mereka meminta untuk disanjung? Tentu saja tidak, kitalah yang memang patut menghargai mereka, karena mereka yang berjuang sekuat tenaga dengan materi, pikiran dan ide yang mereka punya mereka berusaha melepaskan negeri kita dari belenggu penjajah.  

Kembali lagi ke diri kita, apakah kita mampu menghapal siapa pahlawan-pahlawan kita yang terpencar dari seluruh pelosok negeri ini. Apakah kita hapal dengan slogan sejarah dan peristiwa heroik yang terjadi pada masa itu. Mungkin beberapa kita juga sudah banyak yang melupakannya, semudah kita melupakan barang yang telah kita buang. Lantas apakah kita menganggap bahwa pejuang dahulu sama halnya seperti sampah yang terbuang dan lantas kita lupakan. Kita mungkin pernah menonton sebuah acara di sebuah stasiun televisi, banyak pemuda sekarang yang tidak mampu menghapal butir-butir pancasila, Pembukaan UUD 1945, nama-nama pahlawan, bahkan tidak mampu menghapal lagu Indonesia Raya. Tapi mereka dengan mudahnya menghapal lagu-lagu masa kini yang silih berganti ritme dan genre. Miris bukan? Iya. Patutkah kita meragukan kecintaan kita terhadap negeri kita? Kalau kenyataan yang terjadi seperti itu jawaban saya adalah iya!

Kita bisa melihat di media sosial, melihat mental-mental pemuda kita yang cengeng. Kenapa? Karena mereka mudah mengeluh dan ironisnya lagi meraka mudah memaki yang dipasang di status mereka. Apa yang menjadi permasalahannya, kadang hanya sepele, sekedar hujat-hujatan pribadi yang tiada arti, kelompok, suku bahkan merambat ke agama. Kadang kita dibuat tertawa, karena mendadak semua orang meninggalkan semua profesinya dan menjadi hakim yang sangat bahagia memvonis para terdakwa dengan hukuman yang setinggi-tingginya di media sosial. Kadang kita juga mudah terprovokasi  dengan masalah yang belum tentu jelas sumber dan kebenarannya. Mungkin jika kita menggunakan bahasa yang santun tentu masih enak dibaca. Tetapi seringnya kita menjadi pemaki. Seharusnyalah kita memberikan solusi, mulailah dari diri kita. Kita mulai memberi contoh tindakan kita, kepada orang terdekat kita, bahwa kita bukan pribadi yang rapuh, mudah memaki, mudah terprovokasi dan mudah terpecah belah. Kembali lagi ke makna sumpah pemuda, marilah kita hayati dan juga laksanakan, maksud dan tujuan para pejuang kita berkumpul dari berbagai suku, ras dan agama membulatkan tangan dan menyatukan tujuan dengan cita-cita Indonesia bersatu, Tanpa persatuan tentunya kita tidak akan mampu melepaskan diri dari penjajah yang sejak dulu menanamkan benih kebencian diantara kita dengan politik divide et imperanya.

Sumber : Google.com
Semoga dengan mengenang sejarah sumpah pemuda, kita mampu meniru jejak pejuang kita, dengan cara yang lebih elegan, karena kita tidak lagi memanggul senjata. Tetapi dengan ilmu dan pengetahuan yang kita dapat dengan bekal moral yang punya. Kita pastikan mampu mengakui bahwa kita adalah bangsa yang menjunjung tinggi bhinneka tunggal ika. Kita memiliki banyak kemajemukan, kekayaan budaya nusantara dan kekayaan alam yang melimpah pula. Dengan bersatu kita mampu menjadi bangsa yang kuat. Dengan menghargai nilai sejarah kita mampu menjadi bangsa yang besar. Dengan mengamalkan ilmu kita mampu menjadi bangsa yang cerdas. Semoga dengan tulisan kecil ini, sebagai salah satu cara untuk ikut serta mengobarkan kembali semangat sumpah pemuda yang mungkin telah banyak kita abaikan. Marilah kita bersatu. Perbedaan yang ada kita jadikan kekayaan kita. Jangan melupakan pahlawan, jangan melupakan sejarah dan jangan melupakan semboyan bhinneka tunggal ika. ~Hidup Indonesia Raya~

#IIDNJogja #CintaIndonesia @Emerentiana Tini Naibaho 

2 komentar: